Welcome to Abdul Malik Ikhsan's Blog

Akhir hidup Mirza Ghulam Ahmad

Posted in Agama, kehidupan by samsonasik on June 14, 2008

Akhir Kehidupan yang Menghinakan

Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA

Ajaran Ahmadiyah banyak mendapat penentangan dari para ulama di India. Di antara ulama yang terdepan menentangnya adalah Asy-Syaikh Tsana`ullah Al-Amru Tasri. Karena geram, Ghulam Ahmad akhirnya mengeluarkan pernyataan pada tanggal 15 April 1907 yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Tsana`ullah. Di antara bunyinya: “…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah.

Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH…

Aku berdoa kepada Allah, wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–.

Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya…. Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah.

Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)

Apa yang terjadi? Setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu, justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.

Putranya Basyir Ahmad menceritakan: Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke sana 2 atau 3 kali tanpa memberitahu aku. Kemudian dia bangunkan aku, maka aku melihatnya lemah sekali dan tidak mampu untuk pergi ke ranjangnya. Oleh karenanya, dia duduk di tempat tidurku. Mulailah aku mengusapnya dan memijatnya. Tak lama kemudian, ia butuh ke WC lagi. Tetapi sekarang ia tidak dapat pergi ke WC, karena itu dia buang hajat di sisi tempat tidur dan ia berbaring sejenak setelah buang hajat. Kelemahan sudah mencapai puncaknya, tapi masih saja hendak buang air besar. Diapun buang hajatnya, lalu dia muntah. Setelah muntah, dia terlentang di atas punggungnya, dan kepalanya menimpa kayu dipan, maka berubahlah keadaannya.” (Siratul Mahdi hal. 109 karya Basyir Ahmad)

Mertuanya juga menerangkan: “Malam ketika sakitnya Hadhrat (Ghulam Ahmad), aku tidur di kamarku. Ketika sakitnya semakin parah, mereka membangunkan aku dan aku melihat rasa sakit yang dia derita. Dia katakan kepadaku, ‘Aku terkena kolera.’ Kemudian tidak bicara lagi setelah itu dengan kata yang jelas, sampai mati pada hari berikutnya setelah jam 10 pagi.” (Hayat Nashir Rahim Ghulam Al-Qadiyani hal. 14)
Pada akhirnya dia mati tanggal 26 Mei 1908.

Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematiannya selama hampir 40 tahun. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala singkap tabir kepalsuannya dengan akhir kehidupan yang menghinakan, sebagaimana dia sendiri memohonkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kini siapa yang sadar dan bertobat setelah tersingkap kedustaannya?
Wallahu a’lam bish-shawab.

Diambil dari http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=679

Dicopy paste dari http://antosalafy.wordpress.com/2008/06/12/akhir-kehidupan-mirza-ghulam-ahmad/

Advertisements

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kodok said, on June 20, 2008 at 8:03 am

    Ini adalah jawaban Asy Syaikh Tsana’ullah
    “Saya tidak menantang Anda untuk ber-mubahalah, saya hanya menyatakan keinginan saya untuk bersumpah, namun Anda menyebutnya sebagai suatu mubahalah, di mana suatu mubahalah adalah melibatkan pihak-pihak yang bersumpah yang berhadapan antara satu dengan lainnya. Saya telah menyatakan kesediaan saya untuk bersumpah dan tidak membuat suatu tantangan untuk ber-mubahalah. Membuat suatu persumpahan secara sepihak adalah satu hal dan mubahalah adalah soal lain.” (Ahlul Hadits, 19 April 1907).
    Artinya, dia tidak berani bermubahallah dengan Ghulam Ahmad. Berita yang sama dengan penjelasan lebih panjang ditulisnya tgl 26 April 1907. Padahal jelas Ghulam Ahmad sudah tua dan sakit, tapi Tsana’ullah tidak berani mubahallah. Karena ada pihak yang tidak menginginkan, maka gugurlah syarat mubahallah itu.

    Dari Jabir bin Atik, bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Mati syahid itu
    adalah tujuh macam, di luar mati syahid terbunuh di jalan Allah:
    Orang mati karena penyakit tha’un, itu syahid. Orang mati
    karena tenggelam, itu syahid. Orang mati karena sakit panas,
    itu syahid. Orang mati karena sakit perut, itu syahid. Orang mati
    karena terbakar, itu syahid. Orang mati karena tertimbun
    reruntuhan, itu mati syahid dan orang mati karena melahirkan,
    itu mati syahid.” (H. R. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dengan
    sanad yang Shahih)12

    Ghulam ahmad wafat karena sakit perut (diare). Menurut hadits di atas, termasuk golongan orang yang syahid.

    kodok_purba
    http://kodokpurba.wordpress.com

  2. sandal said, on June 20, 2008 at 2:50 pm

    ya ga asal mati karena sakit perut terus mati syahid dunks, kalau lagi main judi, terus sakit perut, terus mati, dibilang mati syahid juga??? wah, berarti anda perlu banyak belajar lg neh sebelum berkomentar…,

    wallahua’lam.

  3. samsonasik said, on June 30, 2008 at 1:18 am

    Untuk memahami hadits di atas, tentu saja kita harus tahu syarat, rukun, dan pembatalnya, syaratnya yang pasti orang itu harus Islam, kalau orang itu tidak bisa disebut Islam, tentu saja menjadi batal, artinya, walaupun orang tersebut mati dalam kondisi sakit, tetap saja ia tidak mati syahid.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: