Welcome to Abdul Malik Ikhsan's Blog

Tentang Bid’ah hasanah vs Dholalah v2

Posted in Agama by samsonasik on June 14, 2008

Judul ini saya ungkap kembali dengan versi2(v2) , karena terinspirasi dari pertanyaan seorang teman terhadap saya, tentang hukum melakukan tahlilan atas orang yang sudah meninggal, hm…, lagi-lagi tentang bid’ah. Saya mencoba menjawab dari sisi kemaslahatannya, dan atas dasar do’a, “Robbighfirli waliwalidayya walmuslimin”, di sini, tidak disebutkan, permohonan ampun tentang orang yang sudah meninggal atau masih hidup, yang penting dia muslim. Atas dasar ini, saya menjawab, bahwa hal itu dibolehkan, selama itu bukan menjadi sesuatu yang diwajibkan, bahwa ketika ada orang meninggal, harus diadakan tahlilan, nah itu baru salah. Menurut pandangan saya pribadi, tahlilan dapat dikatakan bid’ah yang hasanah, (Secara garis besar, bid’ah dibagi menjadi 2, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah-red), Kalau secara terperinci, seperti berikut :

  1. Bid’ah Wajib
  2. Bid’ah yang diharamkan
  3. Bid’ah yang dianjurkan
  4. Bid’ah yang dibolehkan
  5. Serta bid’ah yang dimakruhkan

Saya ingin mengutip tentang cerita seorang Guru Fikih di Universitas Al Azhar, seorang murid bertanya kepadanya, “Wahai guruku, bagaimana hukumnya orang yang merayakan maulid Nabi?” masuk dibagian mana?

“apakah kalian ingat, ketika Rasulullah datang hijrah dari mekkah menuju madinah, semua orang bahagia dengan kedatangan Rasul, sehingga mereka melakukan puji2 an tuk Rasulullah.

Perayaan maulid ini paling afdhal amal ibadah, karena kegembiraan dan kecintaannya terhadap Rasulullah, seperti katanya Imam Sayuti rahimahullah “Dan ini tidak termasuk dalam hal bid’ah yang sesat, karena hal2 yang terkandung didalamnya tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul, sahabat, atau ijma’ ulama, seperti itu juga pendapatnya imam Syafi’.

kemudian sang guru memberikan sebuah contoh lain tuk murid-muridnya, ” tahu kah kalian dengan Abu Lahab? dikutib dari imam Sayuti dari imam Syamsuddin ibn al Jazri didalam kitabanya mengatakan, sesungguhnya Abu Lahab diringankan oleh Allah akan azabnya setiap hari senin, karena ia memerdekakan Tsuwaybah yang mana disebabkan kegembiraanya terhadap kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.”

Di era ini Muslimin berada dalam hegemoni Barat dan cenderung menjadi bulan-bulanan. Tidak jarang Muslimin saat ini menangkap informasi tidak berimbang dan selalu menguntungkan Barat. Padahal, sudah menjadi rahasia umum bahwa sejarah Barat adalah sejarah kebohongan yang ditampilkan dalam frame yang begitu sistematis.

Pada keterjebakan posisi ini Muslimin mendambakan kembalinya kejayaan Islam pada abad-abad terdahulu dan Muslimin tahu bahwa kekalahan Muslimin berada pada titik kurangnya konsolidasi antar-negara Islam dunia. Pertanyaan, di mana kiprah OKI (Organisasi Konfrensi Islam) selaku organisasi persatuan Islam dunia, sering muncul namun tidak pernah mendapat jawaban riil.


Artinya, momen-momen show of force (unjuk kekuatan), seperti peringatan Maulid dan perayaan besar lainnya, sudah sepantasnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Momen-momen besar Islam seperti itu sangat berpotensi dan efektif untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin, bukan hanya pada taraf nasional tapi internasional. Di Indonesia saja, peringatan Maulid ini telah diposisikan sebagai hari libur nasional dan satu-satunya hari besar nasional yang diperingati di dalam Istana Negara.

Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki menyatakan bahwa peringatan Maulid adalah kesempatan emas (furshah dzahabiyah) untuk membangkitkan kembali semangat membela Islam dalam tubuh Muslimin. Bahkan, kesempatan ini dinilai sebagai target utama diperingatinya hari kelahiran Nabi Muhammad ini.

Contoh bid’ah hasanah yang lain adalah khutbah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, membuka suatu acara dimulai dengan membaca basmalah di bawah komando seorang, memberi nama pengajian dengan nama kuliah shubuh, menambah bacaan subhanahu wa ta’ala (yang biasa diringkas menjadi SWT) setiap ada kalimat Alloh. Serta perbuatan lainnya yang belum pernah ada pada masa Rosululloh SAW, namun tidak bertentangan dengan inti ajaran agama Islam.

Wallahua’lam bishshowab.

Referensi :
http://azharku.wordpress.com/2008/02/13/bidah-vs-bidah/
http://ksatriaberkuda.multiply.com/journal
http://langitan.net/?page_id=130/sunni/ahlussunnah-wal-bidah-hasanah/page-1/post-11/

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. David said, on July 4, 2009 at 11:38 pm

    “Kullu” dalam sabda Nabi tsb ada pengkhususannya. Jika semua itu diartikan umum, maka semua kegiatan pembukuan Al-Qur`an adalah bid’ah. Adzan dua kali pada shalat Jum’at yg dilakukan Sayyidina Utsman adalah bid’ah. Membuka sandal di luar Masjid adalah bid’ah.

    Siapa yang sanna suatu SUNNAH yang baik di dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala sesiapa yang beramal dengan (SUNNAH) nya selepas (kematian) nya. Tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya sedikitpun. (Sebaliknya) siapa yang sanna satu SUNNAH yang buruk, adalah dosa atasnya dan dosa mereka yang beramal dengan (SUNNAH BURUK) nya selepas (kematian) nya, tidak berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka yang akan ditanggungnya). [HR. Muslim dari Jabir]

    Sanna Sunnatan dapat berarti merintis suatu kebiasaan, membiasakan suatu kebiasaan baru, membuat suatu kebiasaan baru. Jadi, sunnah di sini bukanlah salah satu hukum dalam fiqih, tetapi kebiasaan, jalan. Seperti dalam hadits Rasul, “Kalian akan mengikuti sunnah/kebiasaan/jalan ummat terdahulu…”

    Dalam hadits-hadits di atas kita melihat dua perkara yang berlawanan. Di satu sisi ada Kitab Allah, petunjuk Muhammad, Sunnah Khulafa ar-Rasyidin, dan sunnatun hasanatun; dan di lain sisi ada bid’ah dan sunnatun sayyi-atun. Jadi, yang ada sekarang adalah istilah sunnatun hasanatun dan sunnatun sayyi-atun. Sunnatun hasanatun merupakan kebiasaan yang baik, yaitu kebiasaan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Nabi, dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin. Sedangkan sunnatun sayyi-atun merupakan kebiasaan yang buruk, yaitu kebiasaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Nabi, atau sunnah Khulafa-ur Rasyidin. Artinya, selama kebiasaan itu baik dan tidak ada larangan dari syara’ dan tidak pula mengubah syara’ dan tidak pula menyalahi syara’, maka ia adalah sunnatun hasanatun.

    Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ihsaan,. (An-nahl: 90)

    Ayat ini menunjukkan bahwa segala yg ihsan itu tidak lagi membutuhkan dalil untuk dikerjakan, karena cukuplah ayat ini sebagai dalil. Karena ayat ini menyuruh kita untuk berbuat ihsan. Maka segala yg ihsan itu berdasar kepada ayat ini.

    Mengapa Sayyidina Umar mengusulkan pengumpulan dan pemush-hafan Al-Qur`an? Karena beliau melihat bahwa perbuatan itu ihsan. Jadi, ihsan tersebut hanyalah pandangan Sayyidina Uamr dan kemudian Abu Bakar pada mulanya.

    Nah, jika para ulama shalih memandang bahwa dalam kebiasaan2 (sunnah2) yg baru itu terdapat ihsan, maka kebiasaan yg ihsan itu boleh dikerjakan, karena Allah memerintahkan kita untuk berbuat ihsan, dan tidak melarangnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: